Tentang Sahabat Dzikir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Perjalanan waktu yang terus bergulir semakin memantapkan dan mengokohkan langkah Sahabat Dzikir. Kebersamaan dengan para Sahabat Dzikir memiliki arti yang sangat besar bagi perjalanan Sahabat Dzikir. Saya ucapkan trimakasih, sedalam-dalamnya. Pujian, like, dukungan, kritikan bahkan sampai makian menyadarkan kami betapa keberadaan kami sudah tidak main-main lagi. Dinamika inilah yang kami tangkap untuk lebih serius lagi merancang dan menyajikan informasi yang benar-benar bermanfaat. Tidak hanya informasi yang menyenangkan, mendukung, tapi juga informasi yang betul-betul apa adanya. Kadang informasi informasi apa adanya menjadikan merah kuping, tersinggung dan seterusnya. Sekali lagi tidak ada niat sedikitpun tentang informasi yang apa adanya itu.

Langkah kami tentu sesuai dengan niat kami yang tertuang dalam angan-angan dan harapan kami. “Sebagai Media yang menginginkan pembacanya untuk selalu ingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Tentu untuk ingat kepada Allah banyak cara yang bisa dilakukan. Banyak amaliah yang bisa dilaksanakan, tidak hanya dzikir, wirid atau doa-doa tertentu di waktu-waktu tertentu.

Maka atas dasar itu kami mulai fokus terhadap dua hal berikut ini;

#1. Kajian Keislaman. Mengkaji sumber-sumber informasi tentang keislaman. Cara berfikir kami sederhana bahwa apapun ada ilmunya. Orang yang tidak pandai mengelola harta ketika diserahi wewenang mengelola harta maka akan habis dalam waktu cepat. Bukannya bertambah malah berkurang, bahkan mungkin habis tidak tersisa. Berbeda dengan orang yang pandai mengelola kekayaan. Meski awalnya kecil tapi kemudian bisa menjadi besar. Maka dari sini benar pernyataan Al-Quran bahwa “Jauh berbeda antara orang tahu dan tidak tahu” QS. Az-Zumar [39]:9.

Begitu juga dengan menjalankan Islam maka pengetahuan yang baik dan benar akan jauh lebih bermanfaat. Pada akhirnya pengetahuan yang dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan itulah yang akan mendekatkan pada Allah Ta’ala. Ingat janji Allah Ajawajalla akan ingat kepada hamba-Nya ketika seseorang mengingat Allah, QS. Al-Baqarah [2]:152.

Dengan meningkatnya keimanan karena pengetahuan tentang Islam yang lebih baik, maka bagi kami itulah esensi dzikir yang sebenarnya. Ia tidak akan berani menggunjing tetangganya karena jelas dalam Surat Al-Hujarat [49] ayat 12 dijelaskan bahwa menggunjing itu tidak baik (dosa), keburukannya seperti memakan daging manusia. Dengan bekal pengetahuan seperti itu, ia akan berfikir puluhan kali ketika akan menggunjing. Kenapa begitu? Karena dihatinya tersimpan keimanan. Selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi.

#2. Integritas seorang muslim. Tidak ada yang sempurna manusia dibumi ini. Semua pernah melakukan kesalahan. Bersyukurlah jika ada keinginan untuk kembali, atau bahkan sedang mencari-cari bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Allah Ajawajalla tidak akan bosan dengan ibadah yang menggebu-gebu, sampai orang sendiri yang akan bosan. Maka dari itu, lakukan ibadah dan amaliah sesuai dengan kemampuan. Lebih utama tanamkan dahulu ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tanamkan sampai betul-betul menjadi sebuah kebiasaan. Tingkatkan terus kualitas amaliah secara bertahap.

Jika ritme itu sudah didapatkan maka itulah integritas sebagai seorang muslim. Sebuah wujud dari karakter dan akhlak seorang muslim.

Melalui media Sahabat Dzikir ini kami mengajak untuk meneguhkan integritas sebagai seorang muslim dengan dasar pengetahuan yang mencukupi. Maka dengan sendirinya seorang muslim akan taat dan tunduk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika visi dan misinya seperti yang disebutkan diatas maka Sahabat Dzikir layak sebagai media yang  perlu di dukung, dibantu dan dibela. Oleh karena itu kami sangat terbuka untuk berdiskusi, ngobrol tentang bagaimana baiknya Sahabat Dzikir.

Doakan kami, agar kami kokoh dan tidak condong pada alfa dan kesesatan.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbana La tuzigh quloobana ba’da iz hadaitana wahablana mil’ladunka rahmah, Innaka anntal wah’haab.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. QS. Al-Imran [3]:8

Semoga informasi yang ada di sahabat dzikir membawa manfaat bagi kita semua.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Islahudin