Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Wali Allah – 38/42

0
1770
Wali Allah
Kajian Arbain nawawi ke 38 - Wali Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa akan menolong hambanya yang menyerukan kepada kebaikan, saling menasihati dan mencintai sesama muslim dengan tulus dan ikhlas. Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang satu ini senantiasa beribadah kepada Allah tidak hanya ibadah wajib saja tapi ibadah sunat ia lakukan dengan baik dan sempurna semata-mata menginginkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah tidak mendiamkan ia teraniaya dan disakiti. Pikiran, langkah dan tindakannya senantiasa mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapakah hamba Allah yang seperti itu. Ia adalah Wali Allah.

Sampai sudah Sahabat Dzikir menjelaskan hadits Arbain yang ke 38. Hadits ini adalah berkait dengan hamba Allah yang saleh. Penjelasan dan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti tertuang dalam hadits berikut ini;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman : Siapa yang memusuhi waliku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan  beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi “ HR. Bukhori. No. 6021

Hadits ini secara spesifik menjelaskan tentang wali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam hadits ini 5 hal yang menjadi catatan penting.

#1. Tekun ibadah wajib

Seorang wali Allah pasti sangat tekun dalam menjalankan seluruh syari’at Islam. Tidak hanya ibadah langsung berkiat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ibadah yang berkenaan dengan hubungan antar manusia ia jalankan dengan penuh kehati-hatian. Tidak ada yang tertinggal untuk menunaikan dan menjalankan ibadah wajib ini.

#2. Melaksanakan ibadah sunat

Selain ibadah wajib, ibadah sunat pun tidak ada yang luput, semua dilakukan semata-mata hanya mengabdi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mencari keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

#3. Allah membela wali

Pembelaan Allah terhadap wali Allah Subhanahu Wa Ta’ala digambarkan sebagai pernyataan perang kepada Allah sendiri. Allah sendiri yang akan menuntaskan semua masalah hambanya. Jika Allah sendiri yang menghadapi maka pasti tidak akan ada yang mampu menang melawan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

#4. Diberi apa yang ia minta

Apapun yang ia minta Allah pasti beri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga akan memberikan keselamatan untuk dirinya.

#5. Allah Meridho

Puncak dari perhatian Allah kepada hambanya (wali Allah) adalah dengan Meridho apapun yang ia lakukan. Mendengar, melihat berjalan dan bertindak Allah selalu memberikan petunjuknya.

Dalam Al-Quran surat Yunus [10] Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyinggung tentang wali.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ | الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ | لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. QS. Yunus [10] : 62-64

Dari ayat diatas kita bisa melihat bahwa seorang wali dapat diidentifikasi paling tidak dengan 3 ciri berikut.

3 CIRI WALI ALLAH

#1. Tidak takut dan tidak bersedih hati

Dalam hatinya yang ada hanya ada Allah. Hanya Allah tempat berlindung dan menggantungkan seluruh masalah yang ia tanggung. Tidak takut ancaman siapa pun meski jiwanya harus direnggut. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana ketika Nabi Ibrahim menyerukan kepada Nimrudz (Namrudz bin Kanʻān 2275 SM – 1943 SM) tentang perilaku syiriknya menyembah selain Allah. Ketika ia diancam dengan kobaran api yang akan membakar dirinya. Ia tidak takut dan tidak risau. Hatinya kokoh dan tidak ada sedikitpun rasa takut. Peristiwa ini direkam dalam surat Al-Anbiyaa [21]

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Allah berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. QS. Al-Anbiyaa [21]:69

Allah memberi keselamatan kepada Nabi Ibrahim dengan menyejukkan api yang konon nyala api baru padam setelah 40 hari. Sesuai janji Allah dalam hadits arbain ini Allah akan membantu dan memberikan pertolongan kepada hambanya yang saleh.

#2. Iman dan taqwa

Ketaatan dan ketakwaan hamba Allah yang disebut dengan wali ia tuangkan dalam bentuk ketekunan melaksanakan semua perintah baik yang wajib dan sunat.

Ia melaksanakan perintah dan menjauhi semua larangan semata mata untuk mengejar keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

#3. Kabar Gembira di dunia dan akhirat

Keteguhan hatinya berasal dari kabar baik yang ia terima dari Allah. Kabar baik berkenaan dengan dunia dan akhirat.

Seorang yang bertaqwa akan selalu diberi jalan terbaik dan pintu kemudahan di dunia ini.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Bangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. QS. At-Talaaq [65]: 2

Dalam surat Al-Jin Allah juga memberikan jaminan bawa orang yang tetap teguh pada jalan Allah akan senantiasa diberi air segar (rezeki yang berlimpah).

وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). QS.Al-Jin [72]: 16

Begitupun ketika di akhirat kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang pernah ia lakukan.

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. QS. Az-Zukhraf [43] : 72

Baik hadits Arbain yang sedang kita bicarakan maupun ayat Al-Quran dari surat Yunus [10] yang sama-sama membicarakan tentang wali Allah, kedua-duanya sama-sama menjelaskan bahwa dasar dari wali Allah adalah orang yang taat pada perintah dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Gemar dan tekun menjalankan ibadah baik itu yang wajib maupun yang sunat. Konsekuensi dari sikap itu seorang wali memiliki kadar keimanan dan ketakwaan diatas rata-rata manusia bisa.

Maka wajar jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu membela dan menolong. Menyelamatkan dari gangguan siapapun. Allah akan membela wali Allah dan menyatakan perang kepada orang-orang yang menghalangi. Jika itu tipu daya maka Allah maha pembuat tipu daya paling sempurna.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. QS. Al-Anfaal [8]:30

Hadits Abu Malik Al Asy’ari

Hadits yang datang dari Abu Malik Al Asy’ari secara spesifik menjelaskan tentang wali Allah. Berikut adalah detil hadits nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ نَاسٌ مِنْ النَّاسِ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ انْعَتْهُمْ لَنَا يَعْنِي صِفْهُمْ لَنَا فَسُرَّ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُؤَالِ الْأَعْرَابِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُورًا وَثِيَابَهُمْ نُورًا يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُونَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Wahai sekalian manusia! Dengar, fahami dan ketahuilah bahwa Allah AzzaWaJalla memiliki hamba-hamba, mereka bukan Nabi atau pun Syuhada` tapi para Nabi dan Syuhada` iri pada mereka karena tempat dan kedekatan mereka dengan Allah pada hari kiamat.” Kemudian salah seorang badui datang, ia berasal dari pedalaman jauh dan menyendiri, ia menunjuk tangannya ke arah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam lalu berkata: Hai Nabi Allah! Sekelompok orang yang bukan Nabi ataupun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami. Wajah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bergembira karena pertanyaan orang badui itu lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang asing, diantara meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah mendudukan mereka diatasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya, pakaian-pakaian mereka cahaya, orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara mereka tidak ketakuan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak bersedih hati.” HR. Ahmad. No.  21832

Dalam hadits Abu Malik Al Asy’ari ini ia menjelaskan tentang ciri-ciri wali seperti yang ditanyakan Arab Badui kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Ciri-ciri itu adalah

#1. Bukan dari arab. Para wali Allah tidak berkebangsaan Arab (orang-orang asing). Bisa bangsa mana saja di dunia ini.

#2. Ada di penjuru dunia. Para wali Allah ada di seluruh penjuru dunia. Ada disini (Indonesia), benua Eropa, Amerika atau dimana pun

#3. Orang biasa. Tidak memiliki kekerabatan (nasab) dekat dengan orang-orang saleh sebelumnya. Misalnya kerabat para tokoh ulama besar, Nabi atau Rasul tertentu.

#4. Mencintai sesama. Mencintai sesama muslim

#5. Tulus dan ikhlas. Tulus dan ikhlas dalam beramal dan beribadah.

#6. Pada hari kiamat tidak takut. Para wali Allah akan selalu ada sampai dunia ini berakhir (kiamat). Mereka ketakutan sementara ia tetap tenang. Para wali Allah tidak takut dan tidak bersedih hati.

#7. Para Nabi dan Syuhada iri. Para rasul dan syuhada iri atas pencapaian yang didapat para wali. Memiliki posisi mulia disisi Allah. Ditempatkan dalam posisi sangat terhormat.

Hakikat wali

Dari penjelasan-penjelasan diatas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa wali Allah pada dasarnya adalah orang-orang saleh. Taat pada perintah dan larangan Allah. Senantiasa tekun beribadah baik yang wajib maupun yang sunat. Ia bisa berperan apa saja di kehidupan sekitar kita. Bisa seorang guru, seorang yang berprofesi pekerjaan rendahan atau mungkin ia seorang pemilik usaha, pejabat yang sangat terpandang atau bisa jadi apa saja.

Ia memiliki keyakinan yang teguh atas janji-janji Allah yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Ia tidak takut akan apapun yang menimpa dalam dirinya.

Dalam literatur perkembangan Islam di Nusantara kita sangat akrab dengan orang-orang saleh yang memiliki jasa luar biasa pada bangsa ini. Mereka disebut wali songo (sembilan wali). Seperti pada penjelasan diatas para wali itu adalah orang yang sangat teguh memegang syariat Islam. Baik yang wajib dan sunah ia laksanakan dengan sangat tekun. Tulus ikhlas dalam semua perbuatan dan tindakannya.

Apakah para wali ada sampai saat ini? Ya. Sampai akhir kiamat mereka ada di sekitar kita. Membimbing, mengingatkan kita semata-mata mengabdi pada Allah. Dengan cara dan media yang sangat dipahami oleh masyarakatnya. Ia tidak takut dan tidak bersedih.

Apakah kita bisa mengetahui si x seorang wali? Hanya Allah yang maha tahu. Tidak ada satu lembaga pun yang mengeluarkan sertifikat bahwa ia seorang wali. Jadi kita tidak akan tahu siapa diantara kita yang menjadi wali.

Apakah wali diberi keistimewaan? Ia. Janji Allah akan membela para wali. Berkait dengan cara dan metode bagaimana Allah menolongnya, hanya Allah yang lebih tahu.

SEMOGA BERMANFAAT

Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim

“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”

Related Post

Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Meringankan beban... Hadits ini adalah sebuah cerminan yang sangat luar biasa bagi seorang muslim agar senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayangnya. Banyak c...
Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Menjaga Lis... Pepatah lama bilang "mulutmu harimau mu" adalah nyata dan benar. Banyak konflik terjadi diseputar kita gara-gara tidak bisa mengendalikan mulut. Peris...
Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Haram dan Halal– ... Hadits ini adalah hadits yang menuai kritik karena poisis Abu Tsa’labah Al Khusyani ada dalam hadits itu. Kritik juga muncul apakah hadits ini Marfu (...