cara niat, biat ibadah
cara niat, biat ibadah
Hadits ini menjelaskan tentang niat. Niat semata-mata untuk mencari keridhoan Allah. Sungguh besar pahala bagi orang yang melakukan kebaikan untuk mencari keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam surat Al-Bayyinah [98] Pahala orang yang melakukan kebaikan semata-mata
جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Qs. Al-Bayyinah [98]:8
Baiklah berikut ini adalah Hadits pertama dari Arbain An-Nawawi yang berkait dengan niat.
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. HR. Bukhari. No. 1
Niat memiliki peran cukup penting dalam menentukan sebuah amal/ pekerjaan. Niat sesungguhnya akan memproyeksikan bagimana hati dan pikiran kita tertuju. Jika sebuah pekerjaan diawali dengan tujuan A maka hati juga akan menuju A dan pastinya apa yang ia dapatkan adalah A. Begitu juga sebaliknya jika anda melakukan sesuatu karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka pahala yang akan anda dapatkan.
Hadits diatas menekankan bagimana pentingnya sebuah proses ibadah. Ibadah yang akan membuahkan pahala adalah ibadah yang dilandasi oleh ketulusan. Semata-mata menginginkan keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada niat lagi selain niat tulus dan ikhlash mengharap pahala kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dari kajian ini ada 3 point yang saya garis bawahi.
#1. Niat. Niat adalah fondasi dasar dalam mengerjakan amaliah. Apapun itu. Jika pekerjaan itu disandarkan pada kepentingan dunia maka itulah yang akan ia dapatkan
#2. Pahala. Balasan dari sebuah amaliah adalah pahala. Jika pekerjaan (Hijrah) semata-mata Rassul dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka ia akan mendapatkan pahala. Sebaliknya jika ia mengharapkan selain itu maka itulah yang ia akan dapatkan
#3. Ibadah. Tentu sebuah ibadah tidak akan bernilai ibadah tanpa didahului dengan niat. Niat yang tulus dan ikhlas akan menjadi pondasi kokoh. Itulah yang menjadi alasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberi pahala 700 kali bahkan lebih. Seperti dijelasan dibawah ini;
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. QS. Al-Baqarah. [2] : 261
Tentu ibadah kita tidak ingin menjadi sia-sia. Seperti anda meletakan tepung diatas tegel marmer kemudian anda tiup. Wuss, sekejap tepung yang anda letakan tidak nampak lagi.
SEMOGA BERMANFAAT.
Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”