Saksi dan bukti dalam islam
Saksi dan bukti dalam islam

Jauh sebelum aturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, Islam telah mengajarkan secara spesifik bagaimana cara melakukan jual beli dan bermuamalah yang benar. Misalkan pentingnya mencatat hutang dan piutang. Hal ini tercermin dalam surat Al-Baqarah [2]:282.

Pembahasan ini sesuai dengan kajian Hadits Arbain yang ke 33 yaitu tentang barang bukti dalam sebuah persaksian. Hadits Arbain yang ke 33 berbunyi sebagai berikut;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، لَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Dari Ibnu Abbas Radhiallahuanhuma, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu (agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkan bukti dan sumpah bagi yang mengingkarinya. HR. Baihaki. No. 226

Dalam hadits ini disimulasikan jika manusia mengadukan sesuatu maka masalah terbesar dan terbanyak diadukan adalah masalah harta dan masalah darah. Dua masalah ini sangat berbahaya jika tidak ada aturan yang ketat. Karena setiap manusia pasti akan selalu berurusan dengan manusia dan akibatnya akan menumpahkan darah. Oleh sebab itu dalam hadits ini dijelaskan bagaimana pentingnya sebuah bukti ketika sebuah masalah diadukan dan sumpah bagi yang mengingkari persaksian.

Seperti penulis ungkapkan dalam surat Al-Baqarah [2] dijelaskan secara detail bagimana sebuah bukti dibutuhkan ketika seseorang melakukan transaksi muamalah. Ayatnya seperti ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَن يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَن تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَن تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِن تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Al-Baqarah [2]: 282

Ayat diatas secara detail menjelaskan beberapa hal berkait dengan muamalah.

#1. Menuliskan transaksi jual beli tidak secara tunai. Mencatat semua transaksi yang tidak dibayar secara tunai alias bentuk kredit atau hutang. Berapa pun nilainya harus dicatat. Besar atau kecil memiliki potensi masalah. Maka tulis hutang itu.

#2. Nilai hutang harus diketahui bersama. Pencatatan hutang harus diketahui oleh para pihak. Tidak boleh salah satu pihak saja yang mengetahui.

#3. Diwakilkan. Jika tidak mampu untuk menyaksikan pencatatan hutang karena sesuatu hal maka harus diwakilkan kepada orang yang dipercaya atau walinya.

#4. 2 orang saksi. Saksi menjadi penting dalam proses ini. Hendaknya disaksikan oleh dua orang laki-laki. Jika tidak ada laki-laki maka boleh diganti oleh perempuan dengan perbandingan 1 saksi laki-laki sama dengan 2 saksi perempuan. Dengan kata lain saksi 1 orang laki-laki dan dua orang perempuan. Wajib bagi saksi ketika timbul masalah untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenar-benarnya. Sebaliknya jika saksi memperkeruh masalah dan membuat masalah tambah tidak jelas maka sikapnya itu adalah bagian dari perilaku fasik.

Hikmah Pencatatan Hutang Piutang

Tentu banyak manfaat yang dapat dipetik dari proses pencatatan hutang itu.

#1. Lebih adil. Hak kedua belah pihak dapat terlindungi dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama dan disaksikan oleh dua orang saksi

#2. Menghindari konflik. Tentu dengan pencatatan seperti ini semua masalah menjadi jelas. Rujukannya adalah catatan yang telah disepakati bersama.

#3. Menjaga kepercayaan. Dalam hal berbisnis maka kepercayaan adalah sesuatu yang sangat penting. Nah, kepercayaan ini dapat dijaga dengan catatan-catatan ini

Islam secara spesifik telah mengatur bagaimana sebuah persaksian diatur berdasarkan bentuk masalahnya.

#1. Saksi Zina. Saksi dalam kasus zina tertuang dalam ayat berikut.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. QS. An-Nur. [24] : 4

Saksi untuk menuduh perbuatan zina adalah dengan mendatangkan 4 orang saksi laki-laki. Sebaliknya jika penuduh tidak mampu mendatangkan empat saksi maka akibatnya fatal ia di cambuk sebanyak 80 kali cambukkan.

Ayat ini menggambarkan betapa tidak buruknya tuduhan zina yang tidak didasari dengan bukti kuat. Karena jika tuduhan ini diterima maka tentu akan mencemarkan nama baik yang sebenarnya tidak pernah melakukan apa pun.

#2. Saksi Muamalah. Saksi ini adalah seperti yang dijelaskan di atas. Dua orang yang melakukan muamalah harus disaksikan oleh dua orang saksi atau jika hanya ada satu laki-laki maka bisa diganti dengan 2 orang perempuan. Jadi 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

#3. Saksi yang tidak masuk dalam zina dan muamalah. Perbuatan ini diwajibkan dengan mendatangkan dua orang saksi. Seperti dalam ayat di bawah ini yang menjelaskan tentang rujuk.

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. QS. QS. At-Talaq. [65]:2

Ayat ini menjelaskan tentang proses rujuk dimana wajib untuk mendatangkan dua orang saksi dalam proses rujuk. Tentu rujuk dilakukan setelah masa idahnya berakhir.

SEMOGA BERMANFAAT
Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”