Prilaku mudharat
Prilaku mudharat

Prinsip dari perbuatan mudharat dalam hadits ini adalah perilaku seseorang yang tidak hanya merugikan dirinya tapi juga merugikan orang lain. Sikap ini pada dasarnya adalah sikap keacuhan seseorang dan mementingkan diri sendiri sehingga apa yang dilakukannya merugikan orang lain. Misalnya adalah memarkir kendaraan dengan sembarangan. Artinya memarkir kendaraan tidak pada tempatnya. Jelas hal ini akan mengganggu orang lain yang kebetulan lewat atau menggunakan tersebut. Perilaku ini bisa jadi tidak hanya merugikan orang lain tapi juga menjadi sebab celaka orang lain dan dirinya.

Hadits Arbain An-Nawawi ke-32 ini membicarakan tentang sikap dan perbuatan seseorang yang membawa mudharat. Hadits yang dimaksud berbunyi sebagai berikut;

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سعْدُ بْنِ سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri Radiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain“ HR. Malik. No. 1234

Hadits ini bercerita tentang bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap diri kita sendiri dan orang lain ketika melakukan sesuatu. Pesan yang terkandung dalam hadits ini adalah kepedulian kita terhadap lingkungan. Jangan sampai apa yang kita lakukan mencelakai diri kita apalagi mencelakai orang lain.

Imam Ahmad memperkuat hadits ini dengan hadits di bawah ini;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ وَلِلرَّجُلِ أَنْ يَجْعَلَ خَشَبَةً فِي حَائِطِ جَارِهِ وَالطَّرِيقُ الْمِيتَاءُ سَبْعَةُ أَذْرُعٍ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya. Seseorang boleh menyandarkan kayunya pada dinding tentangganya. Dan jalanan untuk umum adalah selebar tujuh hasta.” HR. Ahmad No. 2719

Sikap mudharat yang dipahami dari hadits ini adalah sikap yang mementingkan diri sendiri yang berakibat terganggunya kepentingan orang lain.

Ingat bahwa kepentingan seseorang dibatasi kepentingan orang lain. Atau dengan kata lain kebebasan seseorang dibatasi kebebasan orang lain. Ilustrasinya adalah seperti anda memiliki pemutar musik dengan sepiker besar dan bagus. Atas alasan kebebasan bahwa anda berhak memutar musik yang anda sukai sekeras dan sekencang yang anda mau. Tapi tahu tidak bahwa orang lain (tetangga anda misalnya) juga punya kebebasan untuk tidak mendengar musik yang anda sukai.

Ilustrasi diatas adalah bentuk kecil dimana sikap mudharat ini dapat ditemui di sekeliling kita. Jangan ditanya ketika anda keluar dan mengendarai kendaraan anda. Anda pasti sudah tahu seperti apa.

Sebenarnya ada hal lain dari pesan ini yang lebih besar yang berkait dengan perilaku mudharat. Prilaku yang memunculkan potensi kerugian dan kerusakan bagi lingkungan sekitarnya.

Allah Ajawajalla menegaskan dalam pesannya dalam surat Ar-Ruum [30]

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS. Ar-Ruum [30]:41

PERBUATAN SYIRIK DAN MAKSIAT

Perbuatan maksiat adalah sumber dari kerusakan itu. Ketertarikan kepada dunia yang berlebihan telah menutup mata sampai tidak peduli lagi perbuatannya menjadikan lingkungan sekitarnya menjadi rusak. Rusak alamnya, rusak akhlakinya dan rusak tatanan kehidupan.

Sebaliknya jika ia taat dan memahami tentang aturan dan ketentuan (tidak berlaku maksiat) maka lingkungan juga akan ramah dan memberikan sesuatu yang lebih baik lagi.

Perbuatan maksiat ini juga timbul dari kelemahan dirinya untuk meyakini Allah Subhanahu Wa Ta’ala (berlaku syirik) bahwa Allah akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Seperti janji Allah pada surat Al-A’raf

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. QS al-A’raaf [7]:96

Kerusakan yang ditimbulkan dari kesyirikan dan kemaksiatan berdampak sangat luas. Tidak hanya lingkungan tapi kerusakan pada Akhlak, Alam dan tatanan kehidupan.

KERUSAKAN AKHLAK (MORALITAS DAN MENTALITAS)

Laju industri media yang sedemikian gencar dan masif seperti banjir bah menyapu segalanya. Berdalih prinsip-prinsip korporasi yang memang harus menciptakan keuntungan telah menutup mata para pemegang kebijakan untuk melihat akibat dan dampak yang sangat luar biasa besar.

KERUSAKAN ALAM DAN HABITAT SEKITARNYA

Kerusakan lingkungan alam dan segala habitat yang tumbuh dan hidup di sekitar wilayah eksploitasi sudah jelas dan nyata. Longsor dan kebakaran adalah bonus dari apa yang telah dilakukan selama ini terhadap alam dan lingkungan

KERUSAKAN TATANAN HIDUP

Dalam perspektif kebangsaan perubahan tatanan kehidupan ini sangat berbahaya. Bergesernya pola hidup gotong royong berubah menjadi individualistis. Perilaku sederhana berubah menjadi konsumtif dan seterusnya.

Betapa berbahayanya perbuatan yang dilandasi oleh perbuatan maksiat yang akhirnya akan menciptakan mudharat dan kerusakan yang sangat besar.

SEMOGA BERMANFAAT

Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim

“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”