Menyikapi Kemungkaran
Menyikapi Kemungkaran

Kemungkaran adalah sesuatu yang lazim yang kita temui saat ini. Kemungkaran adalah bentuk tindakan yang menyalahi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setiap muslim diwajibkan untuk bersikap terhadap kemungkaran yang ia saksikan dan rasakan. Baik dengan tangannya (kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki). Jika tidak mampu dengan ucapan. Sekedar melarang dengan ucapannya dan terakhir jika tidak mampu maka dengan hatinya. Paling tidak hatinya menolak bahwa perbuatan itu tidak sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan.

Hal ini sesuai dengan tema kita kali ini, yaitu kajian Hadits Arbain yang ke 34. Hadits yang akan kita bahas kali ini berbunyi sebagai berikut;

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda : Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. HR. Muslim. No. 49

TIGA SIKAP MENGHADAPI KEMUNGKARAN

Hadits ini menjelaskan tiga level dari kemampuan seseorang dalam menyikapi kemungkaran.

#1. Dengan tangan (kekuasaan). Wajib bagi seorang muslim untuk menyikapi kemungkaran dengan kekuasaannya/ otoritas yang ia miliki, apabila melihat kemungkaran. Hal ini bisa dilihat dalam sekala kecil, misalnya dalam keluarga. Otoritas orang tua memberikan instruksi jelas kepada anak nya untuk menjalankan Shalat. Maka lakukan dengan tegas. Dengan tangan, sama sekali bukan dengan tangan diartikan secara langsung dengan memukul.

#2. Dengan lisan. Kita bisa saja ketika orang membuang sampah sembarangan langsung menegur. Jika cara penyampaiannya baik dan sopan pasti yang ditegur juga akan menerima.

#3. Dengan Hati. Ini adalah sikap pasif alias diam. Meski yang bereaksi hanya hatinya. Hanya bisa pasrah dan diam menyaksikan kemungkaran yang nyata-nyata terjadi di depan mata.

Perintah untuk menyeru/ bereaksi kepada kemungkaran adalah salah satu hak istimewa yang diberikan kepada Umat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hal ini seperti tertuang dalam Surat Al-Imran [3].

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. QS. Al-Imran [3] : 110

Mestinya hak istimewa ini diterima dengan baik. Karena dibalik perintah itu pasti ada manfaat yang teramat besar.

Berbeda dengan Ummat lain dalam hal ini Bani Israil.

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Mereka (Bani Israil) satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. QS. Al-Maidah [5] : 79

Sikap acuh terhadap kemungkaran yang terjadi di sekeliling kita, bisa jadi dari sikap ego kita masing-masing. Atau bahkan bersembunyi dibelalang dalil hak asasi manusia. Ia membiarkan kemungkaran karena semata-mata percaya bahwa orang lain yang sedang menjalankan kemungkaran pada dasarnya sedang menjalankan hak dasarnya sebagai manusia.

Dalam ayat lain bahkan orang yang tidak menjalankan amal ma’ruf nahi munkar adalah orang paling rugi.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْر ٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran. QS. Al-Asr [103] : 2-3

Secara umum dua sikap bagaimana seorang muslim ketika melihat kemungkaran.

#1. Sikap Diam. Ia acuh. Tidak peduli dengan kemungkaran. Dalam pikirannya sudah terpatri bahwa apa yang ia lakukan adalah kesenangannya dan kita tidak boleh menggagunya.

#2. Sikap Berlebihan. Sikap ini disebut juga dengan sikap ekstrim. Katika melihat kemungkaran ia langsung bertindak tanpa memperdulikan kanan kiri. Pokonya dia salah, maka harus ditindak. Sikat.

Cara menyikapi kemungkaran juga tidak seperti itu. Tidak diam saja. Juga tidak over. Maka memang ada beberapa hal yang harus diketahui ketika seseorang melangkah untuk mencegah kemungkaran.

TIGA SYARAT MENYIKAPI KEMUNGKARAN

Berikut tiga hal yang mutlak diketahui ketika seseorang menyikapi kemungkaran.

#1. Tahu aturannya. Tahu ilmunya. Pahami duduk persoalannya. Tidak semua orang melakukan kemungkaran karena keimanannya tapi juga bisa jadi karena ke tidak tahuannya. Peranan metode lebih penting di sini. Sama halnya seperti menghadapi anak yang malas belajar. Meski orang tua memiliki otoritas untuk memaksa, tapi lebih baik langkah itu tidak dilakukan. Ajak bicara, bawa santai mungkin bisa menyelesaikan masalah.

#2. Sampaikan dengan baik. Ucapan yang sama jika disampaikan dengan intonasi suara yang berbeda tentu akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Coba saja ketika anda kesal tapi kemudian menyampaikan dengan senyum-senyum pasti anda dikira sedang melawak. Penyampaian adalah metode bagaimana seseorang yang melakukan kemungkaran diposisikan tetap terhormat. Tetap dihargai. Jika disampaikan dengan cara seperti itu pasti akan lebih mengerti dan paham.

#3. Sabar. Tahu ilmunya dan menyampaikan dengan metode yang baik juga bukan jaminan seseorang menerima apa yang disampaikan. Maka bersabarlah. Terus sampaikan kebaikan. Kewajiban anda hanya menyampaikan, biar Allah Azawajjala yang akan menggerakkan hatinya menuju kebaikan.

Semoga kita tetep menjadi orang baik. Jangan bosen ya.

SEMOGA BERMANFAAT
Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”