Jaga lisan
Jaga lisan

Pepatah lama bilang “mulutmu harimau mu” adalah nyata dan benar. Banyak konflik terjadi diseputar kita gara-gara tidak bisa mengendalikan mulut. Peristiwa besar yang menyebabkan perang pun bisa jadi berawal dari kendali mulut yang tidak terkontrol. Maka berhati-hatilah dengan mulut atau lisan. Lebih baik diam jika tidak memahami masalahnya. Banyak bicara juga belum tentu dianggap paling benar. Maka pepatah lama juga bilang “Tong kosong nyaring bunyinya”. Jelas gentong yang kosong akan lebih nyaring bunyinya ketimbang gentong yang terisi penuh dengan air.

Nah kali ini kami akan membahas hadits berkait dengan bagimana memperlakukan lisan kita. Ini adalah kajian ke-29 dari Hadits Arbain an-Nawawi. Hadit tentang menjaga lisan ini berbunyi sebagi berikut;

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ   عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ  بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ  الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ   اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ : } تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.. –حَتَّى بَلَغَ-  يَعْمَلُوْنَ{ُ ثمَّ قَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata : Saya berkata : Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda: Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji. Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda: Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) : “ Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….”. Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?, aku menjawab : Mau ya Nabi Allah. Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Kemudian beliau bersabda : Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkel wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka . HR. Abi Dawud No. 4607 Turmudhi. No. 266

Hadits ini menjelaskan secara detil bagimana sahabat Nabi waktu itu begitu konsen dengan amalan yang menyebabkan seseorang masuk surga.

Ini sesuai dengan penjelasan bahwa masa yang paling baik adalah pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadits ini merekam dialog antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Muad Bin Jabal yang disaksikan sahabat-sahabat lainnya. Dialog itu berkenaan dengan perkara-perkara yang menyebabkan seseorang masuk surga dan perkara-perkara untuk menghindari dari api neraka.

Secara umum jika kita rangkum ada 4 point utama yang menjadi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

A. AMALAN YANG AKAN MEMASUKAN ORANG KE SURGA

#1. Beribadah pada Allah. Beribadahlah pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tulus dan ikhlas tanpa menyekutukan.

#2. Menegakan Sholat. Senantiasa menegakan sholat. Sholat tepat pada waktunya. Berusaha sekuat tenaga untuk berjamaah.

#3. Zakat. Menunaikan zakat. Banyak zakat yang bisa dilaksanakan. Zakat mal adalah salah satu komponen yang sering luput dari aktifitas kita.

#4. Puasa Ramadhan. Berpuasa pada bulan suci Ramadhan. Semoga bulan tahun depan kita disampaikan lagi pada bulan ramadhan yang akan datang.

#5. Haji. Berhaji bagi yang mampu. Mampu secara finansial dan fisik. Jika sudah memenuhi dua komponen itu paksakan untuk melaksanakannya. Dua komponen itu sudah merupakan panggilan anda untuk berhaji.

Sebenarnya jika kita teliti lagi lima amalan ini adalah bagian dari Rukun Islam. Dimana sebuah rukun jika tidak dilaksanakan maka tidak sah sebuah perkara. Karena rukun adalah pekerjaan minimal yang telah ditentukan.

B. PINTU-PINTU SURGA

#1. Puasa. Puasa menjadi benteng seseorang untuk melakukan maksiat. Banyak puasa yang dianjurkan selain puasa wajib di Bulan Suci Ramadhan.

#2. Sedekah. Sedekah akan menghapus kesalahan seseorang seperti air dapat mematikan api.

#3. Shalat malam (Qiyamullail). Sholat dimana orang terlelap tidur (menjauhkan lambung dari tempat tidur). Ia shalat dan berdoa kepada Allah Ajawajjala dengan penuh rasa takut dan penuh harap.

Kemudian Rasulullah membacakan surat berikut;

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. QS. As-Sajda [32] : 16

C. POKOK DARI SEGALA PERKARA

#1. Islam sebagai pokok perkara. Apapun yang kita laksanakan harus bersandar pada ketentuan yang telah digariskan dalam Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Hadits. Ini adalah sumber pokok Islam. Tidak ada yang lain.

#2. Sholat sebagai pilar. Shalat adalah pilarnya. Hanya ini kegiatan ibadah yang sering dilaksanakan oleh seorang muslim. 5 kali dalam sehari semalam. Bagimana jika pilar ini tidak dijaga. Dibiarkan tidak terawat dan kropos.

#3. Jihad sebagai pucaknya. Berbuat baik (amal saleh) adalah puncaknya. Berjuang mewujudkan impian adalah jihad. Belajar/ menuntut ilmu adalah jihad. Menafkahi keluarga adalah jihad. Mambantu tetangga kekurangan adalah jihad. Menolak ajakan berbuat buruk adalah Jihad. Jihad adalah puncak dari pengamalan Islam yang bertujuan menegakan apa yang Allah perintah dan larang.

D. JAGA LISAN

Rasulullah bertanya. “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang dapat memiliki semua itu”.

Muadz berkata. “Mau Ya Rasulullah”.

“Jaga ini”. Ucap Rasulullah sambil memegang lisan (lidah) beliau.

Perlu diingat melukai dengan lisan saja tidak boleh apalagi melukai secara pisik dengan kekerasan.

Islam sangat konsen dengan prilaku dan aklaq. Bahkan perbuatan sedekahpun tidak akan menjadi pahala jika sedekahnya diiringi dengan menyakiti dan merendahkan orang lain. Seperti yang tergambar dalam Suarat Al-Baqarah ini.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. QS. Al-Baqarah [2] : 262

Lebih sepesifik lagi Abu Hurairah menjelaskan tentang akibat dari lidah yang tidak dijaga.

“Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina”. HR. Muslim No. 4678

Dalam hadits diatas bahwa orang yang memiliki amal banyak tapi tidak menjaga lisan maka pahalanya habis bahkan bangkrut (tidak punya nilai pahala sedikitpun)

Semoga kita semua diberi karunia dan kemampuan untuk menjaga lisan.

SEMOGA BERMANFAAT

Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”

Related Post

Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Wali Allah – 38/4... Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa akan menolong hambanya yang menyerukan kepada kebaikan, saling menasihati dan mencintai sesama muslim dengan...
Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Haram dan Halal– ... Hadits ini adalah hadits yang menuai kritik karena poisis Abu Tsa’labah Al Khusyani ada dalam hadits itu. Kritik juga muncul apakah hadits ini Marfu (...
Kajian Hadits Arbain An-Nawawi – Meringankan beban... Hadits ini adalah sebuah cerminan yang sangat luar biasa bagi seorang muslim agar senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayangnya. Banyak c...