gerhana tanda kebesaran Allah
gerhana tanda kebesaran Allah

Sebagai orang timur masyarakat Indonesia sangat kental dengan hal-hal mistis, sangat suka mengkait-kaitkan peristiwa alam dengan peristiwa yang sedang terjadi baik berkait dengan urusan pribadi atau yang berkait dengan peristiwa lebih luas, misalnya dengan kondisi bangsa.

Mitologi buto (raksasa) Kala juga tidak kalah populer nya di masyarakat Indonesia. Peristiwa gerhana matahari digambarkan dalam mitologi Jawa adalah peristiwa murkanya Batara Kala kepada Dewa Surya.  Tertutup nya cahaya matahari oleh bulan (Gelap) sebagai simbol kalah nya Dewa Surya.

Tradisi yang masih ada di jawa ketika terjadi Gerhana adalah dengan memukul-mukul kentongan, alu (alat memecah gabah) dan apapun yang menimbulkan suara bising. Ibu yang sedang hamil masuk ke dalam rumah dan tradisi-tradisi lainnya.

Dari isi tradisi harus kita apresiasi sebagai bagian kekayaan budaya bangsa Indonesia. Namun tuntunan sebagai seorang Muslim tidak cukup sampai itu. Sambut peristiwa langka ini dengan banyak berdoa, dzikir dan serta sholat sunat (sholat gerhana, khusuf). Hal ini seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits berikut;

Pada masa Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana Matahari, yatu di hari meningalnya putra beliau, Ibrahim. Orang-orang lalu berkata, “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim”. Maka Rasululah SAW bersabda:”Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalamai gerhana disebabakan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka sholat dan berdoalah kalian kepada Allah”. H.R. Bukhari No. 985