Tokoh Nasional Pati Unus
Tokoh Nasional Pati Unus

Kali ini sahabat Dzikir akan menulis tokoh-tokoh nasional yan berjuang untuk bangsa dan negaranya. Tulisan ini sebagai bentuk apreasiasi Sahabat Dzikir atas hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Semoga tulisan ini meberikan inspirasi untuk kita semua agar tetap berjuang dan berusaha agar mendapatkan yang terbaik. Berusaha keras untuk mendapatkan hak dan yang lebih pernting mempertahankan apa yang sudah diraih.

Tokoh pahlawan yang saya tulis ini adalah tokoh-tokoh yang hidup dan berjuang mulai dari 1500 sampai 1900 an. Hemat penulis para pahlawan nasional seperti Bung Karno pada dasarnya melanjutkan perjuangan panjang yang telah dilakukan oleh para pejuang sebelumnya.

Perjuangan ini menuai hasilnya pada tahun 1945. Sebelumnya perlawanan yang selama ini diperjuangkan bersifat parsial dan kedaerahan. Aceh berjuang untuk bangsanya. Jawa berjuang untuk bangsanya. Sunda berjuang untuk bangsanya. Makasar berjuang untuk bangsanya. Maluku berjuang untuk bangsanya. Bali juga sama dan seterusnya. Semua berjuang sendiri-sendiri. Wajar sangat mudah dikalahkan.

Momen sumpah pemuda Pada 27 dan 28 Oktober 1928 adalah momen dimana mengikrarkan tekad bulat memersatukan visi perjuang bangsa yang kemudian bangsa itu menjadi bangsa dan negara Indonesia yang kita kenal ini. Bertanah air, berbangsa dan berbahasa menjadi satu yaitu Indonesia.

Butuh 600 tahun momen menyatunya kekuatan nusantara menjadi kesatuan yang bulat menuju sumpah pemuda 1928. Setelah sebelumnya tokoh Bhayangkara “Gajah Mada” mengikrarkan “Sumpah Palapa” untuk menyatukan visi nusantara pada tahun 1336 M.

Seiring surutnya pengaruh dan kekuasaan Majapahit visi nusantara pun mulai pudar. Orang sudah melupakan visi nusantara Gajah Mada. Meski ada hubungan kerjasama dan koalisi melawan kekuatan asing tidak dalam sekala besar, hanya dilakukan satu bangsa (kerajaan atau kesultanan) dengan beberapa bangsa lain yang pengaruh dan daya tawar secara politiknya tidak terlalu besar.

Pengganti Majapahit pun tidak cukup mampu mempertahankan kekuasaan yang begitu luas dan besar. Pertikaian politik di Demak, Mataram dan bangsa-bangsa yang mengklaim pewaris majaphit saling berperang. Menjadikan pintu sangat lebar baik kekuatan asing untuk masuk dan berpihak kepada kubu terkuat yang akhirnya menghabisi semua kubu yang bertikai.

Pada saat kondisi lemah seperti itu nusantara menjadi sasaran empuk untuk diambil, dijarah dan diexpolitasi. Manusia nya dijadikan budak dan alam nya diperas habis sebagi komoditi kelas satu di daratan eropa.

Dilain pihak dalam sekala global paska kekalahan Romawi Timur – Konstatinopel (Bahasa Turki: Δ°stanbul’un Fethi) oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1453 M. Praktisi penguasa Ottoman mendominasi ekonomi dan politik di sebagian eropa dan timur tengah. Perdagangan yang dulu berpusat di Tanduk Emas (Golden Horn) sebuah muara pusat perdagangan dan militer dikuasi penuh oleh Kesultanan Utsmaniyah.

Setelah Kesultanan Utsmaniyah menguasai pusat ekonomi dan bisnis di Eropa timur, praktis ruang gerak dan akses ekonomi bangsa-bangsa eropa menjadi terbatas. Momen inilah yang menjadikan bangsa-bangsa eropa menjadi penjelajah untuk mencari rempah langsung pada sumbernya.

Kompetisi ketat ekspedisipun dilakukan, khususnya Spanyol dan Portugis. Atas keputusan Gereja, bumi ini dibagi dua. Bagian barat diberikan kepada Spanyol dan bagian timur diberikan kepada Portugis. Pembagian ini tertuang dalam Perjanjian Tordesillas (Portuguis – Tratado de Tordesilhas) 7 Juni 1494. Spanyol dipimpin Kolumbus (Christoffa Corombo – 1451) dan kawan-kawannya. Kelak ia menemukan Cabe Merah di pedalaman Amerika Selatan yang kemudian diserahkan kepada seponsornya Ratu Isabela. Kolombus menamai cabe merah dengan nama Red pepper (Pepper =lada, Red=merah). πŸ™‚

Beda dengan expedisi Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque (Alfonso de Albuquerque) yang menjelajah bumi bagian timur. Ia menemukan lada yang diinginkan oleh sponsornya Raja Jao, Raja Portugis waktu itu.

Expedisi Albuquerque inilah sebagai cikal bakal orang-orang eropa menemukan surga yang tersimpan di ujung dunia. Mutu manikan yang tidak ada bandingan harganya yaitu Nusantara. Indonesia saat ini.

Awalnya perjalanan Albuquerque murni berbisnis. Berniaga memenuhi kebutuhan rempah untuk negaranya dan pasar eropa. Ini dibuktikan dengan kunjungan pertamnya adalah GOA (Goa India). Tapi dirasa Goa tidak memberikan keuntungan besar. Kemudian beralih ke Malaka. Sebuah selat yang sangat ramai dengan perdagangan rempah. Persis yang diinginkan oleh Albuquerque. Selat ini menjadi sangat penting sepenting Terusan Suez atau Terusan Panama yang menyambungkan dari Cina (Dinasti Ming) sampai Eropa.

Disinilah Albuquerque menancapkan jangkar kapalnya dalam waktu yang cukup lama. Kelak portugis sampai akhir abad 16 masih berkuasa, selanjutnya digantikan oleh Belanda.

Keinginan untuk menguasai dan memonopoli perdagangan mulai timbul dari Albuquerque. Hingga pada tahun 1511 M ia melancarkan penyerangan besar-besaran kepada Kesultanan Malaka yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Shah (memerintah 1488-1511). Tentu peperangan itu tidak imbang. 11 Kapal tempur dan persenjataan modern Portugis mengalahkan perjuangan sengit bangsa Malayu. Perburuan terhadap sultan terakhir malaka ini tidak kenal ampun. Sampai akhirnya ia ke Kampar (Kampar – Propinsi Riau saat ini). Meninggal dan dimakamkan di Kampar.

Banyak kisah menarik yang mengiringi kisah Sultan Mahmud Shah. Mulai dari cerita Hang Tuah, Khoja Hassan, Laksamana Hang Nadim bahkan cerita Puteri Gunung Ledang. Cerita-cerita itu bisa diihat pada buku hikayah Sulalatus Salatin (Tahun Manuskrip – 1808) dan Hikayat Hang Tuah (Tahun Manuskrip – 1849) .

#1. PATI UNUS- 1480–1521

Peristiwa agresi Portugis terhadap Kesultanan Malaka pada tahun 1511 M adalah peristiwa besar. Tidak hanya Demak yang beraksi. Dinasti Ming pun beraksi atas peristiwa Agresi Portugis. Reaksi Disnasti Ming terbukti dengan perlakuan kejam terhadap diplomat dan utusan Portugis. Kelak pada tahun 1521 dan 1522 pecah pertempuran Tamao. Pertempuran antara Dinasti Ming dan Portugis.

Beda dengan Dinasti Ming. Kesultanan Demak langsung bereaksi terhadap sikap agresif Portugis dalam mengusir Kesultanan Malaka. Dua tahun kemudian Pati Unus melakukan penyerangan ke Malaka. Tapi penyerangan ini tidak membuahkan hasil. Penyerangan ini kelak menjadi cikal bakal penyerangan besar kedua oleh Pati Unus. Para sejarah menyebut peristiwa ini sebagai Ekspedisi jihad 2 Pati Unus yang terjadi pada tahun 1521 M. Dimana expedisi jihad ke satu terjadi pada tahun 1513 M. Butuh 7 tahun untuk konsulidasi kekuatan dan merancang penyerbuan yang lebih besar.

Pati Unus memiliki nama asli Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus . Banyak refrensi yang menyebutkan nama dan asal usul Pati Unus. Referensi Dinasti Ming menyebut Pati Unus dengan ι€Έε­« Yat Sun. Sementara TomΓ© Pires dalam Suma Oriental-nya, menyebut “Pate Onus” atau “Pate Unus”, ipar Pate Rodim (Raden Patah), “penguasa Demak”.

Pati Unus tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga Muslim yang taat. Ayahnya Muhammad Yunus yang lebih dikenal sebagai Syekh Khaliqul Idrus adalah seorang ulama dan pendakwah dari Parsi. Popularitas Muhammad Yunus sebagai pendakwah semakin populer setelah menikahi putri dari tokoh ulama terkenal Syekh Mawlana Akbar dari Gujarat yang tinggal di Jawa lebih lama.

Sekh Maulana Akbar sendiri memiliki anak yang dikalangan masyarakat Jawa cukup populer yaitu Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Bahkan Sekh Maulana Akbar memiliki pengalaman bersentuhan langsung dengan Brawijaya raja terakhir Majapahit guna melaksanakan misi dari Raden Patah untuk mengajak Brawijaya memluk Islam.

Singkat kata Pati Unus adalah seorang tokoh Muslim yang cukup penting dan dekat dengan kekuasaan (Kesultanan Demak). Ditambah dengan posisinya sebagai menantu dari Sultan yang berkuasa yaitu Raden Patah.

Hal menarik dari Pati Unus adalah upaya melancarkan serangan kedua atau ekspedisi Jihad 2 ke malaka guna menghancurkan kekuatan Portugis di Malaka. Sikap ini penting diambil Pati Unus. Terlebih pada proses persiapan penyerangan pada tahun 1518 M menjadi Sultan ke dua Demak menggantikan Raden Patah karena meninggal.

Penyerangan selanjutnya cukup besar. Sekitar 375 armada perang disipakan. Sebuah angka cukup pantastis. Pasti memakan biaya cukup besar untuk menggelar serangan besar itu. Tentu kapal ini berbeda dengan kapal Jung atau vinisi dari sisi sepesifikasi. Kapal ini dirancang lebih kuat menahan serangan batu panas yang dilontarkan kanon-kanon besar milik Portugis. Sebagai ilustrasi sederhana jika kapal vinisi yang biasa kita kenal di Dermaga Sunda kelapa dibangun dengan biaya 2 Milyar. Berapa jika dikali 375 buah kapal? Maka akan terkumpul biaya 750 milyar untuk pengadaan armada kapal. Belum diperhitungkan persenjataan lainnya ditambah logistik pendukung pagelaran perang. Pasti sebuah biaya yang cukup besar. Dijaman itu bahkan dijaman sekarang.

Tapi biaya besar itu tidak ditanggung Demak sendiri. Paling tidak 2 Kesultanan ikut dalam koalisi pertempuran itu ikut menyumbang biaya perang. Dua kesultanan itu adalah Cirebon dan Banten.

Tentu dari sisi politis regional pengusiran Portugis dari Malaka memiliki dampak ekonomi besar. Salah satunya dominasi Portugis dalam hal perdagangan rempah di Malaka dapat ditekan. Yang lebih penting adalah lokalisasi kekuatan asing dan menahan ekpansi pedagang asing masuk lebih jauh ke Nusantara.

Pertempuran pada tahun 1521 M yang dipimpin Pati Unus cukup heroik. Pasukan Pati Unus mampu mendaratkan pasukan di Benteng Portugis (A Famosa Malaka) dan terjadi pertempuran berkecamuk dan menegangkan selama 3 hari berturut-turut. Dalam pertempuran itu Pati Unus gugur dimedan laga.

6 tahun kemudian kekalahan Pati Unus ini dibayar lunas oleh Fatahillah. Pada 22 Juni 1527 Fatahillah menyerang Portugis di Kalapa (Sunda Kelapa) yang kemudian memberi nama kota itu dengan mana Jayakarta atau kota kemenangan.

Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Dua orang ini adalah dua tokoh yang berbeda. Era 90 han Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat mengkonfirmasi bukti ini dengan menunjukan bukti dua makam yang berbeda. Makam Sunan Gunung Jati dan Makam Fatahillah.

Semoga perjuangan pendahulu bangsa ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua untuk selalu berjuang dalam mengisi kemerdekaan yang pernah di lakukan oleh para pendahulu bangsa ini.

Insyaaalah besok penulis akan menceritakan kembali tokoh dan pejuang pendahulu kita. MERDEKA!

SEMOGA BERMANFAAT.
Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
Ψ³ΩΨ¨Ω’Ψ­ΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΩˆΩŽΨ¨ΩΨ­ΩŽΩ…Ω’Ψ―ΩΩ‡Ω Ψ³ΩΨ¨Ω’Ψ­ΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω Ψ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΨΈΩΩŠΩ…Ω
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
β€œMaha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”