Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin

Ini adalah tulisan ketiga dari cerita 7 pahlawan dari kalangan Muslim Nusantara. Sebelumnya penulis sudah menyusun kisah Pati Unus dan Sultan Babullah.

Jika dua pahlawan sebelumnya Pati Unus dan Sultan Babullah hidup pada masa Portugis berjaya. Berbeda dengan Sultan Hasanuddin berbeda dengan Sultan Hasanudin,  hidup dan memerintah pada masa dimana Belanda yang dalam hal ini VOC  (Verenlgde Oostindische Compagnie atau United Eastindies Company) dalam masa-masa transisi. Transisi mengambil alih kekuasaan dan pamor Portugis. Pertengahan abad 16 tiga bangsa Eropa yang sama-sama berniaga ada di nusantara,  Portugis, Inggris dan Prancis. Dari tiga bangsa itu Portugis adalah yang paling lemah. Digerogoti oleh bangsa Eropa lainnya terutama Belanda.

Usaha monopoli dan koloni di Nusantara betul-betul dilaksanakan oleh VOC. Hal itu dapat terlihat dari kewenangan yang dimiliki VOC. Misalnya membolehkan memiliki militer, boleh memutuskan perang atau damai dengan bangsa lain di luar Belanda, boleh memungut pajak dan seterusnya. Singkat kata VOC adalah sebuah organisasi dagang yang sangat besar yang memiliki hak dan kewenangan layaknya sebuah negara. VOC adalah organisasi usaha terbuka pertama didunia yang menerapkan sistem saham dalam kepemilikan usaha.

Apapun dilakukan oleh VOC untuk mendapatkan posisi pertama dalam mendominasi perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Termasuk mempengaruhi kerajaan tertentu untuk melawan kerajaan yang lain. Hal ini jelas terlihat dari usaha VOC terhadap kesultanan Gowa yang akan kita ceritakan.

Sultan Hasanudin lahir tahun 1631. Nama kecil Sultan Hasanudin adalah I Mallombasi kelak tokoh ini dikenal sebagai Ayam Jantan dari Timur. Penggambaran ayam jantan ini adalah sebagai penggambaran terhadap Sultan Hasanudin yang gigih menentang pendudukan dan tindakan kesewenang-wenangan Belanda.

Sebelum menerima takhta sebagai penerus ayahnya Sultan Malikussaid (Memerintah 1639-1653) ia kerap ditunjuk untuk mewakili Kesultanan Gowa dalam berbagai peristiwa kesultanan. Ia pula yang ditunjuk untuk melakukan kunjungan ke kerajaan atau kesultanan yang ada di nusantara, termasuk dengan Demak. Puncaknya ia dipercaya bersama Karaeng Pattingaloang untuk membuat benteng pertahanan dari serangan VOC. Benteng Somba Opu yang dibangun diperkuat kembali dengan benteng yang tingginya 6 kaki. Tidak hanya itu benteng Jumpandang (Ujuang Pandang – Fort Roterdam) juga ikut diperkuat.

Sebelum meninggal ayahnya Sultan Malikussaid berwasiat agar I Mallombasi yang menjadi penerusnya. Sepeninggal ayahnya tahun 1653 I Mallombasi menggantikan posisi ayahnya yang dikenal dengan, Sultan Hasanuddin, Tumenanga ri Ballapangkana (yang meninggal di istananya yang indah).

Kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan membangun persekutuan di antara kerajaan-kerajaan di wilayah timur menjadikan ancaman tersendiri bagi Belanda. Kerajaan-kerajaan wilayah timur banyak yang menentang kepada VOC. Sultan Hasanudin sendiri kerap melakukan peperangan dengan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Salah satu kerajaan yang diserang adalah kerajaan di Buton pada tahun 1655. Peperangan yang berlangsung dua hari itu dimenangkan oleh Sultan Hasanudin.

Tentu kepentingan VOC di Buton terganggu. Agar ulah Sultan Hasanuddin tidak berkelanjutan VOC mengajukan perjanjian dengan Hasanuddin. Dalam perjanjian itu VOC berjanji tidak akan ikut lagi urusan Gowa khususnya berkait dengan peperangan. Tapi Hasanudin harus membayar dengan menarik pasukan dari Ambon.

Dua tahun berselang yaitu tahun 1657 belanda melakukan penyerangan terhadap Gowa. Peperangan ini dipicu karena perniagaan Gowa dengan Seram. Akibatnya belanda menanggung kerugian besar akibat aktivitas perdagangan ini. Peperangan ini berlangsung cukup lama dan memakan korban di kedua belah pihak yang tidak sedikit. Di awal tahun 1560 peperangan berakhir dan disepakati untuk melakukan perjanjian yang bertempat di Batavia. Perjanjian itu juga disebut dengan perjanjian Batavia. Perjanjian itu berbunyi;

#1. Gowa tidak diperbolehkan ikut campur masalah Buton, Ternate dan Ambon.

#2. Banda, Buton, Maluku, Manado tidak boleh disentuh oleh Gowa

#3. Orang Portugis dilarang berdagang di Gowa

#4. Belanda boleh tinggal dan menetap di Gowa.

Memasuki akhir tahun 1560 terjadi konflik kembali. Kali ini konflik antara Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bone. Konflik bersenjata ini tidak berlangsung lama dan mampu dipatahkan dengan cepat oleh Kesultanan Hasanudin. Bone sendiri dipimpin oleh tokoh yang tidak kalah legendarisnya ia adalah La Tenri Tatta to Erung atau yang kita kenal dengan Arung Palakka.

Arung Palangka menyingkir dari Bone menuju timur dan berlindung di kerajaan Buton. Sejak saat itu Arung Palaka menjadi pelarian, hingga sampai pelariannya ke Batavia. Pelariannya tidak sendiri ia bersama pasukannya yang cukup terlatih. Kelak Arung Palaka ini sangat populer di wilayah Batavia karena keberanian dan keterampilan bergaulnya.

Lambat laun popularitasnya terdengar oleh salah seorang tokoh penting VOC yaitu Cornelis Janzoon Speelman.  Dari latar belakang yang ia sandang Cornelis melihat bahwa Aru Palaka bisa membantu dalam memadamkan kekuasaan Kesultanan Gowa. Gayung pun bersambut Aru Palaka melihat peluang sama bahwa Cornelis bisa menjadi alat untuk mengalahkan Sultan Hasanudin.

Sebagai bukti perhatian Cornelis terhadap Aru Palaka maka ia diberi tempat tinggal dimana dirinya dan pengikutnya tinggal. Ia dan pengikutnya disebut dengan orang Angke karena tinggal di daerah Angke.

Hubungan Palaka dan Cornelis berkembang menjadi hubungan akrab. Palaka menjadi orang cukup penting di VOC. Bahkan mungkin Ia adalah satu-satunya orang pribumi yang memiliki hubungan akrab sampai dilepel tinggi di organisasi VOC. Sebagai bukti keahliannya dalam berperang ia mampu menyelesaikan peperangan di Pariaman (1666).

Satu tahun setelah misi ke Pariaman Aru Palaka bertempur bersama Cornelis melawan Sultan Hasanuddin. Sampai pada waktunya  pertempuran pada 1667 mendesak Sultan Hasanuddin. Mengepung benteng-benteng yang dimiliki Kesultanan Gowa. Korban jatuh tak terkira dalam kondisi seperti itu Sultan Hasanudin didesak untuk menyetujui perjanjian Bongaya. Sebuah perjanjian yang sebenarnya memosisikan kekalahan kesultanan Gowa.

Setelah peristiwa besar itu tidak banyak yang dilakukan oleh Sultan Hasanuddin, sampai di akhir tahun 1669 ia menurunkan takhta kekuasaannya kepada putranya Sultan Amir Hamzah ( Memerintah 1669 -1674). Satu tahun kemudian Sultan Hasanuddin wafat pada usia 42 tahun pada tanggal 12 Juni 1670.

SIKAP BIJAK MENYIKAPI SEJARAH 

Peristiwa kekalahan Kesultanan Gowa pada tahun 1667 tidak lepas dari ambisi Cornelis yang menginginkan jabatan sebagai gubernur VOC.

Dilain pihak Arung Palaka menginginkan kebebasan dari kesultanan Gowa. Gayung bersambut. Dua tokoh Arung Palaka dan Cornelis masing-masing mewujudkan cita-citanya. Bahu membahu saling membantu. Meski dari sisi ini Arung Palaka terlihat membantu kepentingan penjajah. Tapi yakinlah keputusan dan sikap ini dipengaruhi oleh latar belakang dan kondisi yang memaksa pada saat itu. Tulisan ini sekali lagi tidak bisa mengungkap apa yang melatarbelakangi sikap Arung Palakka.

Di tahun 1666 dalam satu kesempatan menerima anugerah atas jasanya mengalahkan Pariaman Arung Palaka berpidato.

“Bahwa kompeni Belanda tidak perlu merasa berat, karena bukankah bantuan peperangan ini hanya karena saya juga ingin dibantu menyelesaikan peperangan saya dengan Gowa”.

Murni ini adalah sikap politik. Dimana politik akan sangat luwes dan dinamis. Sama seperti saat ini yang terjadi di negara kita. Politisi tampak terlihat tidak punya pijakan. Bisa berubah kapan pun. Mengikuti alur dan situasi yang sedang berkembang. Sekarang merah belum tentu besok tetap merah. Bisa kuning, bisa biru, bisa juga ijo.

Pijakan politik hanya satu yaitu kepentingan. Dan akan berhenti ketika kepentingannya terpenuhi dan terus akan berevolusi mengikuti ke mana kekuasaan mengarah.

Penulis hanya ingin mengajak bahwa para pendahulu kita sama-sama memikirkan bagaimana bangsa ini maju. Namun cara dan taktik yang dilalui terkadang menuai kontroversi yang tajam.

Tidak hanya Arung Palaka yang bersikap kontroversial. Mundur 100 tahun sebelumnya. Pajajaran melakukan hal yang sama. Tekanan dan kepungan tiga kerajaan Islam; kesultanan Demak, Cirebon dan Banten memaksa Prabu Surawisesa (Memerintah 1521 – 1535) harus berkoalisi dengan Portugis. Satu tahun setelah penyerangan Pati Unus ke Malaka (1521). Parasati Sunda Portugis saksinya (Padrão Sunda Kelapa 1522).

Bahkan lebih jauh lagi di tahun 1293. Raden Wijaya pendiri Majapahit juga berkoalisi dengan Mongol untuk menaklukkan Jayakatwang.   Padahal sebenarnya yang dimaksud Mongol adalah Kartanegara penguasa Singosari yang pada masa itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah Jayakatwang dari kediri musuh utama Majapahit. Setlah memukul mundur Jayakatwang, tartar juga ikut di habisi oleh Wijaya.

Intinya penjajah akan melakukan apa saja. Dalam bentuk yang tidak bisa kita kenali lagi. Bung Karno menyebut hal ini dengan penjajahan gaya baru “Neo Kolonialisme”. Sebenarnya bentuk yang seperti ini yang mestinya menjadi perhatian kita semua. Agar bentuk Neo Kolonialisme dapat dihindari. MERDEKA!