Sultan Babullah Ternate
Sultan Babullah Ternate

Ini adalah rangkaian ke dua dari tujuh tulisan berkait dengan 7 pahlawan nasional dari kalangan Muslim. Sebelumnya tulisan tentang Pati Unus bisa dilihat di tulisan sebelumnya.

Tulisan kedua ini tentang Sultan Babullah Datu Syah (Memerintah 1570-1585). Jika mengingat tokoh ini maka kita akan mengingat sebuah bandara udara di kepulauan Maluku Utara ini yaitu Bandar Udara Sultan Babullah. Empat kilometer arah selatan kita akan menemukan bangunan besar membelakangi Gunung Gamalama. Bangunan itu adalah kedaton atau kraton Kesultanan Ternate. Di tempat itulah pernah berjaya Kesultanan Islam terbesar di Nusantara bagian timur di akhir abad 15.

Sultan Babullah naik takhta pada tahun 1570 setelah menggantikan ayahnya Sultan Khairun Jamil (Memerintah : 1534-1570) yang diperdaya Portugis secara keji dan dibunuh. Peristiwa ini cukup memukul pihak keluarga dimana Sultan Khairun awalnya diajak untuk berunding. Nyaris tanpa pengawalan Sultan Khairun menyanggupi undangan penguasa Portugis di Ternate yaitu Lopez de Mesquita. Tapi undangan itu menjadi sebuah prahara besar ketika dalam pertemuan itu Sultan Khairun dibunuh. Peristiw ini kelak yang akan membuka babak baru Portugis dimana mereka akan terusir secara memalukan.

Sultan Babullah sendiri lahir pada 10 Februari 1528. Beberapa tahun setelah peristiwa penyerangan Malaka oleh armada kapal tempur Pati Unus. Tentu peristiwa itu sangat populer bagi Sultan Babulah sendiri dan menjadi bekal bagaimana bersikap menghadapi pedagang-pedagang asing terutama Portugis. Perlawanan Babullah mampu menyingkirkan hegemoni pedagang Portugis di bawah daerah kekuasaan Kesultanan Ternate.

Bagi Portugis sendiri peristiwa penyerangan Malaka oleh Pati Unus dijadikan pelajaran berharga. Untuk langkah aman Portugis menghindari berhubungan secara intens dengan kerajaan atau kesultanan yang ada di Jawa. Meski pernah terjadi perjanjian perdagangan Pajajaran dengan Portugis pada tahun 1522 (satu tahun setelah penyerangan Pati Unus ke Malaka) tapi perjanjian itu tidak bertahan lama (Bukti perjanjian ini dengan ditemukannya Prasasti Sunda Portugis. Bahasa Portugis: Padrão Luso Sundanês). 5-6 tahun kemudian Fatahillah mengusir Portugis dari bumi Pajajaran.

Alasan inilah Portugis mengalihkan konsentrasi ekspedisinya ke pulau yang lebih jauh ke timur. Tapi bukan berarti di timur tidak ada perlawanan. Terbukti kampanye perang Soya-soya (Perang pembebasan negeri) yang di kobarkan oleh sultan Babullah mendapat dukungan luar biasa dari rakyat pulau Gapi (Sekarang Ternate). Dimana perang ini sebenarnya adalah respons terhadap terbunuhnya Sultan Khairun.

PERANG PEMBEBASAN NEGERI (SOYA-SOYA)

Perang ini diumumkan setelah pelantikan Sultan Babullah. Sebelum perang ini pecah Sultan Babullah meminta kepada pihak Portugis yang ada di Ambon sebagai pengendali agar menyerahkan pembunuh orang tuanya. Tapi permintaan itu tidak ditanggapi dengan serius.

Setelah memahami sikap Portugis yang tetap pada pendiriannya Sultan Babullah mengobarkan perang Soya-soya. Seluruh benteng yang dihuni koloni Portugis diserang habis mulai dari Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro. Semua tidak ada yang tersisa. Hanya tinggal satu yang tersisa yaitu benteng Sao Paulo tempat dimana Lopez tinggal dan bertahan.

Untuk mengurangi korban jiwa yang berjatuhan (beberapa penduduk Ternate tinggal dalam benteng) Benteng Sao Paulo dikepung. Diputus segala kebutuhan dan suplai makanan untuk beberapa waktu. Usaha ini berbuah manis. Benteng dapat dikuasai penuh. Kelak benteng ini dijadikan kedaton sekaligus benteng Kesultanan Ternate hingga saat ini.

Serangan Sultan Babullah  tidak sampai situ. Semangat perang Soya-soya tetap dikobarkan hingga serangan melebar sampai ke Pulau Ambon dimana kekuatan pengendali Portugis berada. Terkumpul kekuatan prajurit Kesultanan Ternate sebanyak 3000 prajurit. Bekal ini digunakan untuk melakukan penyerangan ke Ambon.

Serangan Sultan Babullah ke Ambon mendapat perlawanan sengit dari penduduk Ambon yang berpihak pada Portugis. Tapi perlawanan itu dapat diatasi berkat siasat jitu Kapita Kalakinka (Kalakinda). Pimpinan pasukan Kesultanan Ternate. Serangan itu lebih sukses lagi setelah pasukan diambil alih oleh Kapita Rubuhongi dan dalam tempo singkat kota Ambon dapat dikuasai. Butuh 5 tahun untuk betul-betul membebaskan negeri dari kekuasaan Portugis. Tahun 1575 Babullah membabat habis hegemoni Portugis yang berada di Nusantara bagian timur.

Selain mengandalkan kekuatan militer, Sultan Babullah juga menjalin persekutuan dengan kerajaan-kerajaan di sekitar Kesultanan Ternate. Salah satunya adalah raja Gowa Tunijallo. Sultan Babullah secara terbuka mengajak raja Gowa untuk memeluk Islam sekaligus mengajak berkoalisi. Tapi tawaran pertama ditolaknya secara halus. Sementara ajakan untuk membangun kerja sama ia sepakati.

Kekuasaan kesultanan Ternate di bawah Babullah sampai pada puncak kejayaannya. Kelak Sultan Babullah yang paling populer hingga saat ini. Ia dijuluki dengan Penguasa 72 Pulau. Kekuasaannya membentang ke utara sampai Mindanao Filipina Selatan. Ke timur sampai ke pulau Marshall. Ke barat hingga ke Sulawesi Utara dan ke selatan hingga ke Nusa Tenggara.

Wajar bila para ahli sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu Kesultanan Ternate adalah kerajaan Islam terbesar di wilayah timur. Bersanding dengan kebesaran kesulitan Demak di Jawa dan Pasai di Aceh.

Pada masa keemasan Babullah pedagang-pedagang asing masih tetap diberi kesempatan untuk berniaga. Tapi dengan ketentuan yang cukup ketat. Misalnya melepaskan topi dan sepatu ketika datang dan menghadapi sultan, sebagai peringatan agar tidak lupa diri. Hak-hak pribumi betul-betul dijunjung tinggi. Kekayaan hasil perkebunan rempah dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menyejahterakan rakyatnya.

PERANG JIHAD TERHADAP PORTUGIS.

Ada hal menarik dibalik cerita ini. Alwi Syihab dalam catatannya (Membendung Arus Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Misi Kristen di Indonesia, 1998) mengutip tulisan tokoh misionaris legendaris Portugis, Francis Xavier (1506-1552) menyatakan.”Jika setiap tahunnya selusin saja pendeta datang ke sini dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan dapat bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini akan menjadi pengikut agama Kristen”.

Kita dapat memahami kenapa perang Soya-soya berhasil luar biasa. Tidak lain karena misi Portugis selain berdagang juga memiliki misi lain yaitu misi kristenisasi. Wajar jika perang ini juga disebut juga perang Jihad yang dikobarkan oleh Sultan Babullah. Perlu diketahui sejak awal abad 15 Islam telah masuk secara resmi ke kesultanan Ternate. Menjadi agama resmi. Masa itu bertepatan dengan Sultan Bayanullah (Memerintah: 1500-1521). Wajar jika “Jihad” bukan sesuatu yang asing bagi rakyat yang berada di Kesultanan Ternate.

Semoga keteguhan dan perjuangan Sultan Babullah menjadi inspirasi kita semua dalam mengisi kemerdekaan yang diraih oleh para pendahulu bangsa ini. MERDEKA!

 

SEMOGA BERMANFAAT

Terus dan senantiasa berdzikir dengan mengucapkan
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallah wa bihamdihi subhaanallaahil azhim
“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”